Saat Kita SADAR

Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki apa-apa Di saat kita SADAR, kita tidak memiliki kuasa, kita tidak pernah memiliki DAYA, bahkan untuk sekedar memejam mata.

Hidup Itu Sederhana, Sesederhana ini

Hidup itu sederhana, sesederhana ini>>>Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. "Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik."

Inilah Dunia Tanpa Batas

Inilah dunia yang tanpa batas Mencintainya adalah sebuah petaka. Menjauhinya juga tidak selalu membuatmu bahagia. Tempat dimana kau akan terus mencari dan mencari. Tempat dimana kau akan berlari tak henti berlari. sampai kau dipaksa diam, mati.

KISAH SAHABAT TERBAIK

Suatu ketika di india kuno,hiduplah seorang guru yang telah tua.Pada zaman itu jumlah sekolah tidak banyak,dah hanya ada satu guru dan banyak siswa dalah satu sekolah.Guru inipun mengajarkan banyak hal.

Untuk Kesekian kalinya

Kemana harus berpaling Ketika dosa dosa hina mulai terasa sesak membosankan Kepada siapa harus bicara Sementara hati, terlalu kotor untuk berkata-kata

Tampilkan postingan dengan label motivasi rumah tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi rumah tangga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2013

Menikah adalah pembuka dari pintu-pintu rizki

Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sedirian diantara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS An Nuur: 32)

Ayat di atas menganjurkan kepada umat Islam untuk menikah. Allah SWT menegaskan bahwa menikah bukan sebagai penyebab sebuah kemiskinan. Menikah adalah pembuka dari pintu-pintu rizki. Ia membawa berkah dan rahmah dari Allah SWT. Dengan menikah, Allah SWT akan menambah rizki dan karuniaNya kepada hambanya yang yakin terhadap ayat-ayat Allah.

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan AlQuran dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami.

Anas bin Malik r.a berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW: Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (HR Thabrani dan Hakim)

Menikah bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebagai risalah yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna), Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan pernikahan yang harus dipahami oleh kaum Muslim, yaitu agar pernikahan itu berkah dan bernilai ibadah serta benar-benar memberikan ketenangan bagi suami-istri.

Menikah hendaknya diniatkan untuk mengikuti sunah Rasullullah SAW, melanjutkan keturunan, dan menjaga kehormatan. Menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah, meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan.

Pernikahan merupakan sarana dakwah suami terhadap istri atau sebaliknya, juga dakwah terhadap keluarga keduanya, karena pernikahan berarti mempertautkan hubungan dua keluarga besar. Dengan begitu, pertalian persaudaraan dan kekerabatan diantara keduanya pun semakin luas. Hal ini berarti, sarana dakwah juga bertambah. Wallahua’lam.


Kamis, 03 Oktober 2013

Keluargaku adalah Beranda Surga Bagiku

Rasa kasih dan sayang sangat lekat dalam diri kita. Rasa inilah yang mewarnai kehidupan berumahtangga bersama istri, suami, anak, dan orang-orang yang kita cintai dalam keluarga.

Rasa yang menjelma dalam warna-warna indah itu terhimpun menjadi keinginan yang membuncah. Keinginan untuk membangun surga dalam keluarga sehingga kebahagiaan mengisi setiap jenak perjalanan hidup kita.

Setiap keluarga mendambakan sebuah ketenangan. Di dalamnya, penuh jalinan cinta dan kasih sayang dalam membangun mahligai kebahagiaan. Dan kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita dapat meraih surga di akhirat nanti. Hal itu menuntut kita untuk mampu menjadikan seluruh lingkungan, termasuk rumah keluarga menjadi taman-taman atau beranda surga duniawi yang mampu menghantarkan semua keluarga kita menuju taman-taman surga ukhrawi.

Baiti Jannati, rumahku laksana surga bagiku. Begitulah ungkapan yang terlontar dari lisan Rasulullah SAW. Keberhasilan Rasulullah SAW patut menjadi tauladan bagi setiap umatnya dalam membina hubungan berumah tangga. Ungkapan inipun menjadi semboyan oleh setiap rumah tangga muslim yang mendambakan rumah tangga bahagia.

Keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah (Samara) merupakan dambaan setiap insan yang menjalani bahtera rumah tangga. Ia bagaikan beranda surga di dalam keluarga. Keindahan surga rumah tangga tersebut dapat diwujudkan dengan upaya bersama buah dari peduli dan berbagi suami dan istri. Yang satu tidak menjadi beban bagi yang lainnya, tapi sebaliknya memperkuat satu sama lain.

Kebahagiaan itu sangat dekat dengan diri manusia. Sebab kebahagiaan itu ada di dalam hati. Ekpresi jiwa akan menggambar suasana hati manusia. Sedih, tertawa, gembira, gelisah, marah atau perasaan takut bermula dari hati. Karena itu adalah wilayah yang mendominasi hati. Materi kehidupan hanyalah alat yang menopang kebutuhan manusia. Ia bukan sumber kebahagiaan. Di dalamnya ada kecemasan, kegelisahan dan ketidakharmonisan.

Tentunya kita berharap rumahtangga yang kita jalani menjadi damai bagaikan surga, yang di dalamnya ada pasangan yang penuh perhatian, cinta, selalu akur, dan nyaman sehingga terkadang mereka lebih betah di rumah ketimbang mengisi hari-hari luang di luar rumah. Rumah tangga seperti ini tidaklah didapatkan, tetapi ia dibangun dan dibina sedemikian rupa.

Pertama, adanya saling kepercayaan. Kedua, adanya saling keterbukaan. Suami adalah pelindung bagi istri, dan istri adalah selimut sekaligus bendahara bagi suami. Suami yang baik selalu terbuka dalam hal apa pun, begitu pula sebaliknya. Keduanya juga harus mampu menjaga kehormatan dan dapat menyenangkan hati pasangan.

Ketiga, perlu pembiasaan seorang istri dengan menyambut suami dan suami seringlah bercanda-tawa dengan istri. Hal ini dapat meningkatkan keharmonisan dalam rumah tangga. Keempat, jangan menyebarkan aib. Apa yang terjadi dalam rumah tangga, cukuplah pasangan tersebut yang merasakan kekurangan dan kelebihannya.

Orang lain tidak perlu tahu masalah yang dihadapinya. Orang tua sekali pun. Aib pasangan kita, jika keluar dari rumah, hanya akan menambah kehinaan dan kerendahan rumah tangga itu sendiri, tidak lebih. Jadi, jika bisa utamakan komunikasi, musyawarah, sharing, diskusi dan pencarian solusi.

Kelima, jadikan rumah tangga taman-taman surga, yaitu dengan zikir, fikir, dan amal soleh. Hal ini penting untuk mempertahankan suasana religius. Selain itu, kegiatan tersebut dapat mendamaikan hati dan menghiasi rumah tangga tanpa adanya gangguan setan yang sewaktu-waktu menyelinap dalam hati.


Rabu, 02 Oktober 2013

Perempuan Berperan Membangun Kemandirian Keluarga

Orang tua bagi anak, tentunya harus banyak melindungi sekaligus mengayomi, membimbing sekaligus mendidik bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, tidak salah disebutkan bila orang tua, terutama ibu, merupakan pendidik pertama dan utama anak-anak dalam keluarga. Wajar jika seorang perempuan (ibu) dalam setiap keluarga memiliki peran strategis.

Pasalnya, selain harus mampu menjaga keseimbangan dalam berbagai interaksi hubungan komunikasi dalam keluarga, seorang perempuan juga harus dapat mengatur kehidupan keluarga agar mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin bagi keluarganya.

Perempuan adalah rumah dari segala harapan. Kedudukan, peranan, nilai, serta citra seorang perempuan dapat memberikan sesuatu yang utama dalam kemandirian keluarga. Seorang perempuan juga sebagai pendidik pemula, dan pandu kehidupan dunia dalam sejarah hidup dan kehidupan manusia. Perjuangan, pengorbanan dan pengabdian seorang perempuan sangat tulus dan tanpa pamrih.

Terkadang kemandirian seorang perempuan, sangat identik dengan sekedar isu kemandirian secara ekonomi. Padahal, jika dapat melihat persoalan perempuan yang sesungguhnya, maka ia adalah persoalan menyeluruh meski permasalahan yang ada di negara maju dan negara berkembang memiliki titik kulminasi berbeda.

Namun pada kebanyakan negara berkembang, termasuk Indonesia, persoalan perempuan banyak berkutat pada permasalahan himpitan ekonomi, rendahnya kualitas hidup, ketimpangan sosial serta budaya masyarakat. Selain itu masih minimnya akses layanan kesehatan, diskriminasi kerja, kesenjangan layanan pendidikan, kecilnya kesempatan dalam kegiatan publik, dan masih tingginya tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Ada beberapa jenis kemandirian perempuan yang perlu diberdayakan agar dapat menjaga keseimbangan dalam keluarga. Pertama, mandiri dalam ekonomi. Mandiri dalam ekonomi ini berarti memiliki kemampuan ekonomi yang produktif untuk mencari pemasukan tambahan maupun memberdayakan dirinya sendiri, juga keluarga. Oleh karena itu, perempuan perlu memiliki berbagai ketrampilan agar dapat menolong dirinya sendiri, memandirikan diri agar tidak bergantung sepenuhnya pada suami.

Kedua, mandiri dalam pengetahuan. Mandiri dalam pengetahuan berarti perempuan beraktualisasi diri dengan memanfaatkan pengetahuannya agar memiliki eksistensi. Meskipun perempuan secara ekonomi bergantung pada suami, namun perempuan secara mandiri harus dapat eksis untuk memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, lingkungan dan bangsa.

Ketiga, mandiri dalam sikap. Artinya perempuan harus memiliki kemampuan untuk bersikap dalam berbagai persoalan kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Perempuan harus menjadi mitra kerja yang setara dengan suami untuk menyampaikan saran, pendapat, masukan, maupun solusi nyata. Hal ini sangat penting agar perempuan menjadi penyeimbang sekaligus mitra kerja dalam rumah tangga, sejajar suami dalam mengarungi dan menjalankan biduk rumah tangga.

AlQuran telah menggambarkan bahwa perempuan memiliki hak untuk dapat berpacu menggapai beragam kemandirian. Baik kemandirian dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, masyarakat, politik, serta menentukan pilihan-pilihan pribadi, maupun dalam berdakwah amar ma’ruf nahi munkar, serta beragam bentuk kemandirian lainnya.

Sejarah mencatat banyak perempuan-perempuan mandiri pada masa Rasulullah SAW. Contohnya Khadijah, seorang pebisnis perempuan yang tangguh, ulet, dan disegani oleh masyarakatnya; Aisyah, seorang perempuan yang memiliki kecerdasan sekaligus mumpuni dibidang keilmuan, perawi ribuan hadis, juga tempat belajar para sahabat setelah nabi SAW wafat. Ummu Sulaim, seorang da’i perempuan yang dakwahnya sangat menggelora, maupun Asma binti Yazid yang merupakan ahli ceramah dan diplomat ulung.

Konsep hidup kemandirian juga sejalan dengan prinsip hadis yang dikemukakan dalam riwayat Thabrani. “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesamanya”. (HR Thabrani dan Daruquthni). Konsep kemandirian disini bukan berarti hidup sendiri tanpa membutuhkan campur tangan orang lain dalam proses hidupnya, namun tetap dibutuhkan peran orang lain dalam porsi sewajarnya. Mengingat manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, tidak egois dengan menikmati hidupnya sendiri.

Oleh karena itu, peran seorang perempuan tidak boleh terkalahkan oleh apapun. Peran seorang perempuan dalam kemandirian keluarga harus terus berjalan dan dijaga dengan baik. Selain dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam kemandirian, peran seorang perempuan juga dapat menjadi perekat rasa cinta, keluarga, keharmonisan, kesejukan, persatuan dan kesatuan, perdamaian, serta masyarakat dan bangsa.



Minggu, 29 September 2013

Membangun Rumah Tangga

Membangun rumah tangga tidaklah seperti membangun rumah mewah atau gedung bertingkat. Menyusun batu bata di atas batu-bata lainnya.

Tidak juga seperti membuat sebuah taman, merangkai bunga di samping bunga. Apalagi seperti menghimpun binatang dalam satu kandang, satu jantan sepuluh betina.

Tidak. Tidak seperti itu maksudnya. Membangun rumah tangga itu harus dimulai dengan pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita dengan beberapa syarat, antara lain yang selalu harus dipahami dan dihayati. Pertama, berkaitan dengan ijab kabul, serah terima pernikahan.

Ijab kabul itu pada hakikatnya adalah sebuah ikrar untuk hidup bersama, se-iya se-kata dalam mewujudkan sakinah atau ketentraman dengan menjalankan segala tuntutan dan kewajiban. Saling wasiat mewasiatilah tentang suami dan istri untuk berbuat baik, juga saling komunikasi diantara keduanya.

Sepasang suami istri harus menerimanya atas dasar amanah Allah SWT, dan menjadi halal hubungan seksual itu atas dasar kalimat Allah SWT. Itulah yang harus selalu diingat dan dihayati, agar menjadikan kehidupan rumah tangga dinaungi oleh makna kalimat itu.

Kebenaran, keadilan, langgeng, luhur penuh kebajikan, tidak berubah dan dikaruniai anak yang shaleh-shalehah. Ia juga sebagai penyejuk mata, penyenang hati, berbakti kepada kalian ayah bundanya dan kakek neneknya serta santun pada ahli keluarga dan tetangga disekitarnya. Inilah yang pertama, ijab Kabul (serah terima pernikahan).

Kedua, adalah mahar. Suami berkewajiban menyerahkan maskawin atau mahar kepada istri. Islam menganjurkan agar mahar itu sesuatu yang bersifat materi. Karena itu bagi yang tidak memilikinya, dianjurkan untuk menangguhkan pernikahan sampai dia memiliki kemampuan.

Namun, jika satu dan lain hal yang menyebabkan dia harus juga melakukan pernikahan, maka cincin besi pun dibolehkan. Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW. Dan jika cincin besi inipun tidak dimilikinya, sedang pernikahan tidak dapat ditangguhkan lagi, maka mahar itu boleh berupa jasa mengajarkan Al Quran. Begitulah petunjuk Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Mahar atau maskawin itu adalah lambang kesiapan dan kesediaan suami untuk memberi nafkah kepada istri dan sekaligus kepada putra-putrinya nanti. Selama mahar itu bersifat lambang, maka tidak harus banyak, bahkan sebaik-baik maskawin adalah seringan-ringannya.

Begitu sabda nabi Muhammad SAW, walaupun Al Quran tidak melarang untuk memberi sebanyak mungkin mahar atau maskawin. Mengapa demikian? Karena pernikahan itu bukanlah akad jual beli. Karena mahar itu bukan harga dari seorang perempuan. Wallahua’lam.

Kamis, 26 September 2013

Berpasang-Pasangan

Sahabat, sejak kecil hingga memasuki gerbang kehidupan berumah tangga, kita menjadi amanah di tangan orangtua kita masing-masing. Kita semua dibesarkan, dididik, disekolahkan dan seterusnya hingga sekarang ini.

Kita semua diantarkannya memasuki pintu gerbang pernikahan. Kasih sayang orangtua kepada kita semua ternyata melebihi kasih sayang mereka kepada diri mereka sendiri. Jika saatnya tiba memasuki gerbang pernikahan, tibalah giliran mereka, para orangtua kita menyerahkan amanah itu kepada kita dan pasangan (yang akhirnya menjadi suami istri).

Mengapa setiap mahluk yang Allah ciptakan melakukan perkawinan (pernikahan)? Para ahli menjelaskan, karena ada sesuatu dalam diri setiap mahluk yang tidak kecil peranannya dalam wujud ini. Sesuatu itu adalah naluri yang melahirkan dorongan seksual.

Sepasang burung berkicau dan bercumbu sambil merangkai sarangnya. Bunga yang bermekaran dengan indahnya merayu burung dan lebah agar mengantarkan benihnya ke bunga yang lain, supaya dibuahi. Begitulah indahnya kehidupan yang dijalani oleh mereka.

Tidak hanya tumbuh-tumbuhan dan binatang saja, bahkan atom yang positip dan negatif, saling tarik menarik demi memelihara eksistensinya. Demikianlah naluri mahluk, masing-masing memiliki pasangan dan berupaya untuk bertemu dengan pasangannya.

Agaknya tidak ada satu naluri yang lebih dalam dan lebih kuat dorongannya melebihi dorongan naluri pertemuan dua lawan jenis. Jantan dan betina, positif dan negatif bahkan pria dan wanita dalam sebuah pernikahan.

Itulah ciptaan Allah SWT dan itulah peraturan-Nya. “Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. (QS Yasin: 36)

Jumat, 20 September 2013

Berjuang Membangun Rumah Tangga Terbaik

Seharusnya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan untuk kita, dari jenis kita sendiri, pasangan kita, jodoh-jodoh agar kita condong tenteram kepada mereka dan menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kita.

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam AlQuran sebagai perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan pula semata-mata sebagai sarana mendapatkan keturunan, apalagi hanya sebagai penyaluran ‘libido seksualitas’ atau pelampiasan nafsu syahwat belaka.

Penikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Pernikahan adalah surga bagi pasangan yang bertanggungjawab dan melaksanakan amanah. Masing-masing dari pasangan, yaitu suami-isteri memikul tanggung jawab bagi keberhasilan pernikahan mereka untuk mendapatkan ridha Allah SWT.

Apabila masing-masing lebih memperhatikan dan melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya daripada menuntut haknya saja, maka insya Allah keharmonisan dan kebahagian hidup rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah (SAMARA) akan lestari sampai Hari Akhir.

Namun, sebaliknya apabila masing-masing pasangan hanya melihat, dan menuntut haknya sendiri karena merasa memiliki kelebihan atau melihat kekurangan dari yang lain, maka kehidupan mereka akan menjadi beban yang sering kali tak tertahankan.

Masing-masing, laki-laki (suami) dan perempuan (istri), secara fitrah mempunyai kelebihan dan kekurangannnya masing-masing. Namun kelebihannya itu bukan untuk dibanggakan.

Begitu pula dengan kekurangan pasangan bukan untuk diejek atau bahkan dibuat rendah (direndahkan). Tetapi semua itu, pernikahan merupakan peluang bagi kedua pasangan untuk saling melengkapi dengan penuh amanah dan tanggungjawab.

Suami dan isteri hendaklah bersama-sama berjuang membangun kehidupan keluarga mereka dengan akhlak Islam dan menjaga keselamatan dan keistiqamahannya selalu. Dengan demikian akan terwujudlah kebahagian hakiki di dunia maupun di akhirat kelak, Insya Allah.


Kamis, 19 September 2013

Pernikahan Bukan Sekedar Formalitas

Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan satu dengan yang lainnya, menyatukan keduanya dalam takwa, serta menumbuhkan darinya rasa tenteram dan kasih sayang.

Islam sebagai ajaran yang sesuai dengan fitrah, telah mensyari'atkan adanya pernikahan bagi setiap manusia. Dengan pernikahan seseorang dapat memenuhi kebutuhan fitrah kemanusiaannya dengan cara yang benar sebagai suami isteri, lebih jauh lagi mereka akan memperoleh pahala disebabkan telah melaksanakan amal ibadah yang sesuai dengan syari'at Allah SWT.

Pernikahan dalam pandangan Islam, tidak hanya sekedar formalisasi hubungan suami isteri, pergantian status, serta upaya pemenuhan kebutuhan fitrah manusia. Pernikahan tidak hanya sekedar upacara sakral yang merupakan bagian dari daur kehidupan manusia.

Pernikahan merupakan ibadah yang disyari'atkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya, maka tidak diragukan lagi pernikahan adalah bukti ketundukan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah tidak membiarkan hamba-Nya beribadah dengan caranya sendiri.

Allah yang Maha Rahman memberikan tuntunan yang agung untuk melaksanakan ibadah ini, sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.

Maka adalah sebuah kecerobohan, bila hamba-Nya yang ingin melaksanakan ibadah yang suci ini (nikah) menodainya dengan bid'ah (yang tidak diajarkan oleh Islam) dan khurafat (hal-hal yang membawa kepada kemusyrikan terhadap Allah), sehingga mencabut status aktivitas itu dari ibadah menjadi mafsadat/dosa.

Adalah sebuah kemestian bagi setiap muslim untuk berusaha menyempurnakan ibadahnya semaksimal mungkin, tidak terkecuali dengan sebuah proses dan kegiatan pernikahan. Semua itu dilakukan agar hikmah dan berkah ibadah dari ibadah itu dapat dirahmati dan diberkahi oleh Allah Azza wa Jalla.

Selasa, 17 September 2013

Keharmonisan Hidup Rumah Tangga

Keharmonisan hidup berumah tangga adalah salah satu faktor utama dalam membina sesebuah masyarakat yang baik dan terhormat. Rumah tangga yang baik dan harmoni ini sukar diperoleh tanpa adanya kerjasama serta saling hormat menghormati antara suami isteri serta anggota keluarga lainnya.

Suami harus berkelakuan baik dan berakhlak mulia dalam mengendalikan rumah tangganya. Selain itu, ia juga harus senantiasa memperlihatkan contoh-contoh yang baik dalam pergaulan supaya ia mudah diteladani oleh isteri dan anak-anaknya.

Tidak sewajarnya, di dalam rumah tangga, para suami bertindak keras, apalagi bengis hanya karena untuk mengarahkan itu dan ini, serta mau semuanya tersedia untuknya tanpa memikirkan suasana rumah tangga yang memerlukan kasih sayang, kerjasama dan saling bantu membantu.

Dalam kehidupan berumah tangga, Rasulullah Saw telah memberikan sekaligus memperlihatkan suri teladan yang baik yang dapat diikuti oleh seorang suami dalam membina rumah tangganya. Sebagai seorang suami, Rasulullah Saw sangat bertimbang rasa dan bersedia membantu istri dan keluarganya.

Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri, seperti menjahit pakaian, memerah susu kambing dan apabila mau makan Baginda Rasul makan makanan yang tersedia dihadapannya.

Rasulullah Saw sangat marah kepada suami yang ringan tangan, selalu memukul isterinya sebagaimana memukul hamba sahaya. Di samping itu, Rasulullah juga menunjukkan panduan dan contoh tentang hidup tolong menolong serta perasaan kasih sayang kepada isteri. Rasulullah Saw juga menunjukkan suri teladan yang baik, khususnya kepada mereka yang mempunyai isteri lebih dari seorang.

Sebagaimana yang diketahui umum bahwa Rasulullah Saw mempunyai beberapa orang isteri yang terdiri dari berbagai usia. Ada yang masih muda dan cantik, dan ada yang sudah berumur. Walaupun demikian, Rasulullah Saw tidak pernah bersikap pilih kasih dalam layanan kasih sayang diantara mereka.

Masa dan giliran mereka dibuat dengan adil serta cukup rapi sekalipun saat Rasulullah sakit. Apabila Rasulullah Saw hendak berpergian (musafir), maka beliau mengundi antara isteri-isterinya itu dan hanya yang terkena undi (terpilih) saja yang berhak bersamanya berpergian. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari keharmonisan rumah tangga Nabi Saw.

Minggu, 03 Maret 2013

Pernikahan adalah Ibadah

Pernikahan adalah ibadah. Pernikahan tidak hanya sebuah upacara untuk mengumumkan kepada publik mengenai status pasangan pengantin baru.

Peristiwa pernikahan sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

AlQuran mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnya terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia.

Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan bukan yang lain atau sebaliknya.

Berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegaluan dan sejenisnya.

Dalam kehidupan berkeluarga, salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan dari rongrongan itu adalah kemaafan.

Bukalah pintu kemaafan selebar-lebarnya dan selama-lamanya dari pasangan, karena ia akan mencegah masuknya kemarahan, awal dari intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam dalam berumah tangga.

Karena itu membuka pintu kemaafan adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia. Agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasangan suami istri masing-masing dalam kehidupan berkeluarga.

Menurut ketentuan agama, tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada dipundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera keluarga pernikahan selalu berjalan menuju visi abadi: kebahagiaan dunia akhirat dan terhindar dari siksa neraka abadi.

Untuk kawanku, Hendi Hendarsyah dan Ernawati yang melangsungkan pernikahannya hari ini, Minggu tanggal 3 Maret 2013 di Jalan Belly Gg Melon RT 010 RW 10 No.5 Pekayon Pasar Rebo, Jakarta Timur, semoga Allah SWT memberikan keberkahan dalam rumah tangganya, hingga kakek nenek.

Untuk sahabat, saudara saudaraku lainya yang masih sendiri (jomblo) bila kalian telah menemukan jodoh, jangan tergiur kecantikan dan ketampanannya, tidak terpengaruh karena hartanya, dan juga jangan terpancing dari keturunannya. Tetapi jika bisa tertarik karena “Agama dan Ketakwaannya”


Salam jempol saya dengan pengantin pria, mas Hendi Hendarsyah & tim Markom PKPU

Barakallahu Laka Wa Baraka’alaika Wajama’abainakuma Fii Khair” (Semoga Allah melimpahkan barakah kepada kamu dan menurunkan kebahagiaan atasmu, dan mempertemukan kamu berdua dalam kebaikan).”

Senin, 11 Februari 2013

Aku Cinta Keluargaku

Tidak ada rumah yang sebaik rumah “KELUARGA”. Inilah tempat dimana saya lahir, besar, dididik, kerja keras dan pantang menyerah, selalu diajarkan.

Banyak hal menarik yang diajarkan disini. Kebersamaan, canda tawa dan keikhlasan yang sangat terasa disini. Kebersamaan yang aku tak pernah lupakan adalah dimana setiap hari besar Islam kami berkumpul, bercanda ria dan penuh kebersamaan.

Hidup saya dan saudara-saudara memang tidak bisa lepas dari masa lalu yang membentuk pribadi kami semua, anak-anaknya. Ibu, Bapak (alm), kakak, dan adik-adik yang lain, juga para teman dan sahabat menjadi sangat berharga di kehidupanku.

Begitu menarik dan sangat luar biasa yang telah Ibu dan Bapak (alm) ku lakukan saat kecil hingga sekarang. Menuntut ilmu dasar, menengah pertama dan atas hingga di bangku kuliah, untuk kehidupanku dimasa yang datang.

Restu dan doa, rumah “KELUARGA” semoga selalu dan akan terus menyertaiku. Aku rindu pada kalian semua. Semoga selalu menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah dan Warahmah, juga keluargaku tercinta (istriku dan anak-anakku)

Inilah keluargaku, dari (kiri-kanan) Cecep Y Pramana (Bekasi) sebelahku adikku Reny Nurfarida Legawati (Rawamangun), Ibuku tercinta Ibu Ida Saadah (mohon didoakan agar dapat pergi haji), adikku Warih Ratna Wulansari (Tangerang) serta kakakku, Ema Yulia Marliana (Tangerang).

Perlakuan Rasulullah SAW Terhadap Istri

Tidak jarang para istri Rasulullah SAW ada rasa cemburu sebagaimana layaknya para wanita. Namun ketika kecemburuan ini mulai menampakkan ketidakwajaran dihadapan beliau, maka beliau segera meluruskannya dengan pendidikan (tarbiyah) yang baik.

Seringkali istr-istri Rasul SAW mempergunakan kebebasannya dalam berbicara. Sedang beliau mendengarkan, menjawab, dan menyampaikan pendidikan. Beliau selalu membujuk dan melipur hati mereka hingga menjadi jernih tanpa suatu beban apapun.

Dalam sebuah peristiwa, Aisyah pernah bercerita, bahwa pada suatu hari Rasululluh SAW masuk kerumahnya. Aisyah segera bertanya, ”Di mana seharian tadi?”

”Wahai Humaira, aku tadi di rumah Ummu Salamah,” jawab beliau.”Apakah engkau belum kenyang di rumah Ummu Salamah?” tanyaku lagi. Rasul SAW hanya tersenyum saja.

Aku berkata lagi, ”Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mau memberitahuku tentang dirimu? Andaikan engkau turun di dua lembah, yang satu belum pernah digunakan untuk menggembala, manakah yang hendak kau gunakan untuk menggembala?”

”Tentu saja yang belum pernah digunakan untuk menggembala,” jawab beliau.
”Aku tidak seperti seorang pun di antara istri-istrimu. Masing-masing di antara mereka pernah menikah dengan seorang lelaki, selain aku,” kata Aisyah. Lalu beliau tersenyum saja.

Para istri Rasul SAW juga sering bercanda, dan beliau pun ikut bergabung dalam suasana kegembiraan mereka. Abu Ya’la meriwayatkan dari Aisyah RA, ia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah sambil membawa tepung terigu yang sudah kumasak. Aku berkata kepada Saudah, sedang beliau berada di antara diriku dan Saudah, “makanlah!”

Namun Saudah enggan untuk makan. Maka aku berkata lagi, “Kamu makan ataukah harus kupolesi wajahmu!?”

Saudah tetap enggan, tidak mau makan. Kuletakkan tanganku di tepung, lalu kupolesi wajah Saudah. Rasulullah SAW tertawa melihat tingkah kami.

Rasul pun meletakkan tangannya di dalam tepung seraya berkata kepada Saudah, ”Ayo, polesi wajah Aisyah!,” sabdanya sambil tertawa kepada Saudah.

Kamis, 07 Februari 2013

Momok Rumah Tangga Bernama Selingkuh

Terkadang, seorang suami suka berujar dengan sangat entengnya (walaupun tidak semuanya loch), “Cinta itu datang, ya harus ditumbuhkan. Cinta itu jangan dibunuh”. Apakah cinta yang muncul di hati seorang pria yang telah beristri (berumah tangga) dengan wanita lain atau sebaliknya cinta yang muncul di hati seorang wanita yang telah bersuami dengan pria lain harus ditumbuhkan?

Pertanyaannya, mengapa harus dihadirkan dan ditumbuhkan? Mestinya, cinta yang seperti itu harusnya dihindari bahkan ‘dimusnahkan’ dengan segala cara, karena kehadirannya hanyalah sebagai “Setan Penggoda” bagi rumah tangganya. Orang-orang mengatakan itulah yang namanya syetan bernama S-e-l-i-n-g-k-u-h.

Perselingkuhan memang terasa sangat menyakitkan bagi pasangan masing-masing. Namun bila hal itu terlanjur terjadi, dan pasangan telah menyesalinya. Maka, bukalah pintu maaf dengan persyaratan atau janji, jika terulangi lagi maka ada konsekuensi yang harus ditanggungnya.

“Ego” setiap pasangan suami istri, harus dinomorduakan karena anak sangat menderita bila orang tuanya berpisah atau bercerai. Tiap pasangan suami istri harus selalu menghindari jalan-jalan yang menjerumuskannya pada perselingkuhan, yang dapat mengakibatkan perceraian.

Bila masih menganggap “Selingkuh itu Nikmat”, maka harus ditegaskan bahwa hal itu adalah “Nikmat Membawa Sengsara”. Karena syetan bernama S-e-l-i-n-g-k-u-h itu sedang bekerja menggerogoti mahligai rumah tangga yang dibangun oleh setiap pasangan. Dan Allah SWT sangatlah melaknat hal itu.

Masalah-masalah di atas hanyalah merupakan contoh kecil dari sekian banyaknya masalah dalam kehidupan berumah tangga yang akan dihadapi dan kita jalani. Namun, apapun masalah yang dating menghampiri mahligai rumah tangga, pastinya ada sekian banyak solusi untuk menghindarinya.

Salah satu solusi yang paling baik diantara solusi lainnya adalah masalah KOMUNIKASI ANTAR PASANGAN. Sudahkah setiap mereka yang sudah berkeluarga menjalani komunikasi yang baik dan erat dengan pasangan? Pastinya hanya pasangan itu yang mengetahui

Sabtu, 02 Februari 2013

Kunci Rumah Tangga Harmonis dengan Komunikasi Efektif

Salah satu hal penting dalam membina hubungan rumah tangga agar tetap berjalan dengan harmonis adalah dengan komunikasi yang efektif antara suami dan istri.

Komunikasi menjadi poin penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Dengan lancarnya komunikasi maka segala interaksi yang lain juga pasti akan berjalan baik.

Demikian dikatakan Triwisaksana atau yang akrab dipanggil Bang Sani, dihadapan keluarga besar pengajian yang saya juga ikut di dalamnya, pada acara rihlah (rekreasi dan relaksasi) akhir Januari tahun 2012 di Sunset View Hotel, Jl Raya Pantai Carita KM 11 Pantai Carita Pandeglang Banten.

Jika kita telusuri lebih dalam lagi, kata Bang Sani, maka komunikasi merupakan salah satu nikmat besar yang dianugerahkan kepada kita. Karena dengan adanya komunikasi, kita lebih mudah dikenali dan dipahami.

Banyaknya kasus dalam rumah tangga, entah itu perceraian, perselingkuhan, ataupun Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), bermula dari komunikasi yang kurang baik dan efektif, yang memunculkan efek salah paham dan ketegangan. Akibatnya terjadilah hal-hal yang dapat membuat keretakan dalam rumah tangga, papar Bang Sani.

Komunikasi yang baik merupakan pondasi bagi pernikahan yang sehat. Ada beberapa cara komunikasi yang bisa dilakukan agar rumah tangga tetap harmonis. Pertama, menghormati perbedaan pendapat. Komunikasikan bersama setiap ada perbedaan pendapat tanpa perlu mengedepankan ‘ego’ masing-masing.

Dengan memahami setiap perbedaan pasti akan menemukan solusi yang dapat disepakati walaupun bukan yang terbaik. Kedua, menjadi pendengar yang baik. Seringkali orang lebih senang mendominasi pembicaraan ketimbang mendengarkan.

Padahal dengan mendengarkan kita memiliki ketrampilan komunikasi yang lebih baik daripada yang berbicara. Cobalah meluangkan waktu untuk mendengarkan pasangan kita. Ketiga, sabar. Salah satu poin utama dalam setiap hubungan rumah tangga adalah kesabaran.

Cobalah berbesar hati dan siap menerima apabila pasangan kita melakukan kesalahan dan memaafkannya, tentu saja komunikasikan permasalahan yang ada untuk menemukan solusi terbaik.

Dengan cara komunikasi efektif di atas rumah tangga kita akan tetap harmonis. Walaupun badai pasti akan tetap datang, namun jika kita dan pasangan dapat bekerjasama dan berkomunikasi dalam mengatasi masalah, tentu kita bakal segera melewati badai dan menemukan cahaya matahari yang terang. Demikian Bang Sani mengakhiri tausiyah.

Jumat, 01 Februari 2013

Sikapi Masalah Rumah Tangga dengan Bijak

Setiap pasangan yang berumahtangga pasti akan merindukan hadirnya keluarga Sakinah, Mawadah, dan Warahmah (SAMARA).

Suasana rumah tangga yang aman, tenang, dan tentram. Akan tetapi, kondisi ini tidak berarti keluarga tidak pernah mengalami masalah.

Pada kenyataannya, masalah yang dialami pasangan keluarga akan selalu datang seiring dengan berjalannya waktu, baik yang disebabkan faktor internal ataupun faktor ekternal.

Jangankan kita sebagai manusia biasa. Keluarga nabi Muhammad-pun, juga pernah ditimpa masalah keluarga. Misalnya tuduhan perselingkuhan istri nabi, Aisyah dengan salah saorang sahabat, hingga kasusnya berlarut-larut selama 40 hari dan diabadikan dalam AlQuran Surat An-Nur ayat 11-17.

Jadi, perlu disadari bahwa kehidupan dalam rumah tangga tidak akan luput dari masalah atau konflik. Hal ini adalah sebagai ujian yang harus disikapi bersama antara suami dan istri. Lalu, bagaimana agar kita bisa meyikapi masalah keluarga dengan bijak dan tetap mempertahankan suasana keluarga SAMARA.

Pertama, yang perlu disadari adalah bahwa kehidupan dunia adalah cobaan dan setiap orang pasti akan mengalaminya. Besar atau kecilnya cobaan yang dating tergantung dari kondisi dan kapasitas seseorang.

Rumah tangga orang kaya bukan berarti tidak memiliki masalah, begitu pula dengan rumah tangga orang susah. Mereka sama-sama menghadapi masalah sesuai dengan kondisinya masing-masing. Harta tidak menjamin sebuah kesuksesan rumah tangga seseorang.

Karena itu, tidak sedikit rumah tangga orang kaya yang berujung perceraian. Dan sebaliknya, keluarga yang secara ekonomi pas-pasan, mampu mengelola sekaligus mempertahankan mahligai rumah tangganya dan menghasilkan generasi yang unggul. Karena itu, setiap pasangan yang telah menikah memerlukan kedewasaan dan kehati-hatian dalam bersikap dan berpikir, agar dapat menemukan solusi terbaik saat dating ujian rumah tangganya.

Kedua, menyadari bahwa rumah tangga bagi seorang muslim merupakan ibadah. Karena itu, semua aspek yang terkait dengan kehidupan rumah tangga haruslah diawali dengan niat dan cara-cara yang baik.

Sebagian orang beranggapan, pernikahan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis semata. Tetapi, di dalam Islam hakikat pernikahan adalah ibadah seperti yang dianjurkan oleh Rasul SAW sebagai sunah. Oleh karena itu, setiap pasangan yang akan menikah (berumah tangga) haruslah mengetahui ilmu bagaimana membina rumah tangga yang sesuai syariat Islam.

Karena Islam telah mengatur setiap aktivitas yang terkait dengan rumah tangga, seperti tata krama saat melakukan hubungan suami istri, kamar tidur anak laki dan perempuan, kewajian mendidik anak, serta aturan masuk ke kamar orang tua, dll.

Ketiga, setiap pasangan suami istri jangan ‘gampang’ mengucapkan kata-kata yang dapat menyebabkan kehidupan rumah tangga jadi berantakan. Saat pasangan suami istri terjadi percekcokan, maka janganlah ceroboh mengikrarkan kata “cerai”.

Karena sesungguhnya perceraian termasuk perkara yang meskipun dilakukan dengan bercanda, namun secara syariat Islam dianggap serius. Apalagi jika hal itu dilakukan dalam keadaan sadar, atau dengan serius.

Oleh karena itu kepada setiap pasangan suami istri, walaupun hanya berniat main-main dalam mengatakan kata cerai, maka hal itu bisa dianggap sah secara syariat sehingga berlaku konsekwensi yang menyertainya. Cerai tidak memerlukan syarat saksi dan ijab qabul, sebagaimana hal itu dilakukan saat menjalani pernikahan. Jadi, untuk pasangan suami istri, berhati-hatilah dengan ucapan kata cerai. Wallahua’lam

Selasa, 29 Januari 2013

Semua Ingin Calon Pasangan Hidup yang Ideal

Siapa yang tidak menginginkan pasangan hidup yang dapat menjadi teman dalam suka dan duka.

Bersama dengannya untuk membangun rumah tangga yang bahagia, hingga menapaki usia senja, bahkan menjadi pasangan di akhirat kelak.

Tentu saja kita tidak ingin mahligai rumah tangga yang sudah dibangun dan berjalan sekian tahun bersama pasangan yang menjadi pilihan kita kandas di tengah perjalanan yang berujung kepada perceraian.

Tentu saja hal itu akan akan sangat menyakitkan, menimbulkan luka mendalam yang mungkin sangat sulit disembuhkan. Baik luka bagi pasangan maupun bagi buah hati yang mungkin sudah ada.

Karena itu dalam menentukan kriteria calon pasangan, maka Islam memberikan dua hal. Pertama, sisi yang terkait dengan agama, nasab, harta maupun kecantikan. Kedua, terkait dengan ‘keinginan’ pribadi, seperti masalah suku, status sosial, corak pemikiran, kepribadian, serta hal-hal yang terkait dengan masalah fisik termasuk masalah kesehatan dan seterusnya.

Pertama, adalah hal yang terkait dengan standar umum. Yaitu agama, keturunan, harta dan kecantikan. Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya agar kamu selamat”. (HR Bukhari dan Muslim)

Untuk masalah agama, Rasulullah SAW memberikan penekanan lebih, agar memilih wanita (pasangan) yang sisi keagamaannya sudah matang/baik. Tentu saja yang dimaksud dengan sisi keagamaan bukan berhenti pada luasnya pemahaman agama atau fikrah saja, tetapi juga mencakup sisi kerohaniannya (ruhiyah) yang idealnya adalah tipe seorang yang punya hubungan kuat dengan Allah SWT.

Antara lain: aqidahnya kuat, ibadahnya rajin, akhlaknya mulia, menjaga kohormatan dirinya, fasih membaca AlQuran, ilmu pengetahuan agamanya mendalam, berbakti kepada orang tuanya serta rukun dengan saudaranya, pandai menjaga lisannya, pandai mengatur waktunya serta selalu menjaga amanah yang diberikan kepadanya, selalu menjaga diri dari dosa-dosa meskipun kecil, dan lainnya.

Selanjutnya, dari sisi nasab atau keturunan, merupakan anjuran bagi seorang muslim untuk memilih pasangan (wanita/pria) yang berasal dari keluarga yang taat beragama, baik status sosialnya dan terpandang di tengah masyarakat.

Dengan mendapatkan pasangan dari nasab yang baik itu, diharapkan nantinya akan lahir keturunan yang baik pula. Sebab mendapatkan keturunan yang baik itu memang bagian dari perintah agama, seperti yang Allah SWT firmankan di dalam AlQuran.

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”. (QS An Nisaa’: 9)

Pertimbangan untuk memilih pasangan dari keturunan yang baik ini bukan berarti menjatuhkan vonis untuk ‘mengharamkan’ menikah dengan pasangan yang kebetulan keluarganya kurang baik. Sebab bukan hal yang mustahil bahwa sebuah keluarga akan kembali ke jalan Islam yang terang dan baik.

Kedua, yang terkait dengan selera subjektif seseorang terhadap calon pasanan hidupnya. Hal ini bukan termasuk hal yang wajib diperhatikan, namun Islam memberikan hak kepada seseorang untuk memilih pasangan hidup berdasarkan subjektifitas, ‘keinginan’ setiap individu maupun keluarga dan lingkungannya.

Bisa jadi walaupun dari sisi yang pertama tadi sudah dianggap cukup, tidak berarti dari sisi yang kedua bisa langsung sesuai. Sebab masalah selera subjektif adalah hal yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Karena terkait dengan hak setiap individu dan hubungannya dengan orang lain.

Apalagi ada kecenderungan dasar yang ada di tiap masyarakat untuk menikah dengan orang yang sama sukunya atau sama rasnya. Dan Islam bisa menerima kecenderungan ini, meskipun juga tidak menghidup-hidupkannya.

Sebab bila sebuah rumah tangga didirikan dari dua orang yang berangkat dari latar belakang budaya yang berbeda, meski masih seagama, tetap saja akan timbul hal-hal yang secara watak dan karakter sulit dihilangkan.

Keinginan seseorang untuk mendapatkan pasangan yang punya karakter dan sifat tertentu, juga punya pengaruh yang signifikan. Ini merupakan keinginan yang wajar dan patut dihargai.

Misalnya ada seorang wanita menginginkan punya suami yang keren, lembut atau yang macho. Dan ini merupakan bagian dari selera seseorang. Atau juga sebaliknya, seorang laki-laki menginginkan punya istri yang bertipe wanita pekerja, berkemauan keras atau yang tipe ibu rumah tangga.

Ini juga merupakan selera masing-masing orang yang menjadi haknya dalam memilih. Islam memberikan hak ini sepenuhnya dan dalam batas yang wajar dan manusiawi memang merupakan sebuah realitas yang tidak terhindarkan. Wallahua’lam

Kamis, 17 Januari 2013

Meriahkan Dunia Dengan Menikah

Mata adalah penuntun, hati adalah pendorong dan penuntut. Dan cinta adalah rahasia Illahi Rabbi. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan kawan yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.

Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

Duhai...Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

Allah SWT telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya?

Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam (komitmen) menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana.

Selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa.

Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah SWT. Tausyiahlah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya. Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang.

Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa. Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Songsonglah hari bahagia nan suci. Wallahua'lam


Selasa, 15 Januari 2013

Jodoh, Misteri Kehidupan Manusia

Jodoh merupakan misteri kehidupan manusia, karena untuk hal yang satu ini terkadang membuat seseorang sangat bimbang dalam menentukan keputusannya. Jangankan untuk menerima seseorang menjadi pasangan hidupnya kelak, dalam persoalan menerima tawaran ta’aruf (perkenalan) saja terkadang masih terlalu banyak ‘kriteria’ yang dipakai.

Sampai-sampai kriteria yang dipasangpun sudah tidak memenuhi kriteria syar’i lagi, seperti harus yang ‘smart’, tinggi, putih, cantik, ganteng, kaya, sarjana, dan lainnya. Tidak salah memang untuk memasang kriteria seperti itu, hanya saja hendaknya kita tidak mempersulit diri untuk persoalan ini.

Persoalan fisik adalah titipan dari Allah SWT, karena kita tidak pesan sama Allah SWT waktu mau dilahirkan! Biar hitam asal hatinya putih, biar pendek asal akhlaknya tinggi, biar kurang ganteng asal takwa, biar kurang cantik tapi shalehah.

Insya Allah tidak akan menyesal bagi yang memilih pasangan hidup berdasarkan agamanya. Proses untuk memperoleh jodoh yang baik juga menjadi ukuran. Menurut Islam laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik (pula) (QS An Nuur: 26).

Bisa diartikan bahwa jika kita seorang laki-laki yang baik maka kita akan mendapatkan istri yang baik demikian sebaliknya. Inginkah kita dipandang sebagai seseorang yang baik dalam pandangan Islam? Jika demikian mulailah dari sekarang untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik.

Mendapatkan pasangan yang baik dapat diukur dengan niat kita untuk berumah tangga. Artinya, kita harus benar-benar dalam kondisi keimanan yang prima saat ingin melaksanakan pernikahan, dan ukurannya adalah niat berumah tangganya. Jangan sekali-kali berniat menikah saat niatnya belum lurus. Hal itu akan mempengaruhi hasil dari pasangan yang akan kita dapatkan.

Saat niat dan kondisi keimanan sudah prima, maka silahkan berencana untuk menikah. Mulailah dari sekarang untuk menyusun strategi dan taktik agar mendapatkan pasangan yang sesuai dengan idealism kita.

Strategi dan taktik ini merupakan bagian dari proses yang harus dijalani secara Islami. Salah satu proses itu adalah ta’aruf (perkenalan), dalam proses ini harus dijalani secara ma’ruf. Agar proses ta’aruf menjadi ma’ruf maka diperlukan kesabaran yang cukup.

Terkadang ta’aruf tidak menjadi jaminan kita akan langsung dapat menikah. Sekali gagal coba lagi, gagal lagi coba lagi, demikian hingga akhirnya kita mendapatkan pasangan yang sebenarnya yang bersamanya kita dapat membina keluarga sakinah, mawaddah, warahmah (SAMARA).

Jangan sia-siakan pernikahan, sungguh-sungguhlah dalam menggapainya. Rasulullah SAW berkata ‘Baiti Jannati”, rumahku syurgaku. Kebahagiaan merupakan hal yang relatif. Tiap orang mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Namun kita yakin kebahagiaan yang hakiki dapat kita peroleh hanya dengan jalanNya.

Ingin memiliki rumah tangga yang bisa kita jadikan syurga kita didunia? maka ikutilah petunjuk Rasul SAW. “Lihat agamanya niscaya kalian akan mendapatkan semuanya…”. Wallahua'lam


Senin, 14 Januari 2013

Khadijah, Wanita Tangguh Pendamping Rasulullah SAW

Wanita penghuni surga yang paling mulia ada empat, yaitu Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah istri Fir'aun,” kata Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

Tentang keutamaan Khadijah, memang tak perlu diragukan lagi. Ia adalah orang pertama yang mendukung penuh tentang kenabian Muhammad SAW. Ia juga relakan seluruh hartanya yang berlimpah demi kemajuan Islam.

Bahkan, ia juga baktikan seluruh jiwa dan raganya, hingga Allah SWT menakdirkan ia meninggal di tengah-tengah masa perjuangan tanpa sempat menikmati sinar-sinar kejayaan Islam.

Dari sela-sela kisah hidupnya yang sangat mulia itu, kita menemukan satu karakter kepribadian khas yang umum dimiliki oleh kaum wanita utama lain.

1. Tokoh masyarakat
Ia disunting pertama kalinya oleh Atiq bin Abid. Begitu sang suami meninggal ia menikah dengan Abu Halah, tetapi harus menjanda kedua kali karena suaminya ini juga meninggal. Setelah itu banyak tokoh quraisy yang datang untuk melamar, namun semua itu ditolaknya secara halus.

Kedudukannya di tengah masyarakat quraisy sangat terhormat. Bukan karena keturunan dan harta, melainkan karena kepribadian dan budi pekertinya yang luhur. Ia bahkan dijuluki “At Thahirah”, yang berarti Si Wanita Suci.

2. Aktif bekerja
Masyarakat mengenal Khadijah sebagai pedagang yang sukses. Selain memiliki banyak budak laki-laki dan perempuan, Khadijah juga menyewa banyak orang untuk menjualkan barang-barangnya ke luar negeri. Apakah kesuksesan itu ia peroleh dengan cara mudah? Tentu saja tidak.

Tak jauh berbeda dengan keadaan pedagang lainnya, yang harus banyak berpergian mencari barang-barang bermutu untuk diperjual belikan kembali. Selain jeli, pedagang juga harus pandai membangun kerjasama dengan rekanan maupun karyawan.

3. Berani dan percaya diri
Sebagai istri, Khadijah memberikan dukungan penuh kepada Muhammad SAW untuk menempuh jalan kebenaran, sekalipun tak lazim. Pilihan suaminya untuk menyepi ke gua Hira misalnya, termasuk sangat aneh dan dinilai tak berguna.

Bagaimana mungkin seseorang meninggalkan kehidupan nyaman bersama anak istri dengan harta berlimpah, kemudian mengasingkan diri ke sebuah gua di puncak bukit di tengah padang pasir tak berpenghuni selama berhari-hari.

Tapi tanpa khawatir omongan orang, Khadijah dengan setia mengurusi kebutuhan suaminya saat berkhalwat di gua Hira. Jika perbekalan habis, Khadijah akan mengantarkan tambahannya, dan ia harus mendaki tebing terjal yang kemiringannya nyaris 45 derajat. Terkadang ia juga menyertai suaminya dengan mendirikan tenda tak jauh dari bukit dan tinggal di sana.

Hal itu Khadijah lakukan semua hanya dengan satu tujuan; mencari kebenaran yang secara rasio akal mustahil datang ke tengah-tengah bangsa mereka yang jahiliyah itu. Sebuah tujuan yang tak bisa dipahami orang lain, namun Khadijah berani menentangnya!

4. Pengayom
Usia dan pengalaman hidup Khadijah turut berperan menumbuhkan karakter pengayom dalam dirinya. Ketika menikah dengan Muhammad SAW, ia berusia 15 tahun lebih tua, dan telah menikah dua kali serta memiliki anak. Secara psikologis, kepribadiannya yang keibuan dan pengayom itu memberikan kasih sayang figur seorang ibu yang tidak diperoleh sempurna oleh Muhammad SAW selama hidupnya.

Secara fisik dan psikologis, Khadijah memang memiliki banyak kelebihan dibanding suaminya yang masih 'hijau' dalam kehidupan berumah tangga. Ini membuatnya memiliki kedudukan yang cukup dominan dalam rumah tangga, bahkan mampu mengambil peran sebagai pelindung suaminya. Kondisi ini tecermin saat Muhammad mengalami keguncangan karena datangnya wahyu, ia tidak terpengaruh, namun justru mengambil posisi sebagai penyelamat keadaan.

Hebatnya, dominasi kepemimpinan yang ia miliki terhadap suaminya itu tetap ia batasi, sehingga tidak sampai merebut kepemimpinan rumah tangga dari tangan suaminya. Sebagai istri shalihah, Khadijah mengambil posisi sebagai bawahan yang taat pada keputusan-keputusan suaminya dalam urusan rumah tangga mereka.

Kepribadian Khadijah ini cukup mewakili karakter kaum muslimah secara umum yang aktif dan dinamis, serta memiliki kecenderungan untuk lebih dominan terhadap suaminya. Ternyata Allah memberikan pengakuan dan pembenaran terhadap kebaradan karakter jenis ini, sepanjang tetap berada dalam batas-batas etika Islami.

Bukankah ada muslimah yang aktif bekerja maupun bermasyarakat, ada pula yang memiliki kecenderungan lebih dominan dibanding laki-laki, bahkan mendapat legitimasi dari masyarakat mengenai peran yang ia lakukan sehingga membuat ia mendapat kedudukan terhormat di tengah mereka?

Maka ini adalah salah satu jenis karakter kepribadian yang boleh jadi akan mengantar pemiliknya menuju surga, selama hal itu diarahkan di jalan Allah SWT. Wallahua'lam


Kebahagiaan Hidup Berumah Tangga dari Muhammad Anshar dan Siti Rofiah

Menikah atau berumah tangga berarti menyatukan dua keluarga besar yang harus dipahami seluk beluknya dan dihargai hak serta pendapatnya dan dijunjung tinggi harkat dan martabatnya.

Iktikad untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, dan warrahmah (Samara) tidak bisa datang dari sebelah pihak, akan tapi keduanya harus saling bahu membahu dan saling berbagi tugas serta peran sebagai isteri, sebagai ibu, sebagai sahabat.

Begitu pula demikian dengan suami. Ia memainkan peran sebagai kepala rumah tangga, sebagai teman dan sebagai sosok yang memberikan dukungan dalam banyak hal. Ditambah karunia Allah SWT berupa anak, tentunya membuat pasangan suami istri harus mempersiapkan berbagai bekal terutama ilmu pengetahuan dunia dan akhirat untuk anak-anaknya nanti.

Saya bersyukur, karena berkesempatan bertemu dengan pasangan bahagia, yaitu pasangan Bapak Muhammad Anshari (72) dengan Ibu Siti Rofiah (69) tinggal di Purwakarta, Jawa Barat dan telah dikaruniai 11 anak, cucu bahkan cicit ini.

Mereka berdua memiliki konsep keluarga sakinah sejak memulai hidup baru puluhan tahun silam. Sejak menikah mereka berdua sudah bercita-cita mendirikan keluarga sakinah. Semua persoalan dalam rumah tangga diselesaikan dengan segera. Begitu cerita kedua pasangan kakek nenek yang berbahagia ini.

“Tidak boleh ada yang tersisa sampai besok, semua harus tuntas sehingga tidak ada yang mengganjal. Dengan begitu setiap hari selalu dimulai dengan hal-hal yang baru dan setiap hari tetap tumbuh rasa cinta serta saling pengertian”. Begitu kata bapak Muhammad Anshari kepada saya.

Dengan komitmen seperti itu hingga sekarang terus memacu semangat hidup dan bekerja sebagai pasangan yang mempunyai hak dan kewajiban masing-masing. Rumah menjadi tempat berlindung yang hangat, tempat bertemu setelah bekerja seharian dengan profesi masing-masing, cerita bapak Anshari dengan penuh semangat.

Rasa lelah bekerja terbalas dengan sikap yang saling pengertian dan saling mendukung. Terutama saat mempersiapkan diri menjadi seorang ibu tatkala masa kehamilan tiba, tambah Ibu Siti Rofiah yang bercerita dengan penuh semangat juga.

Ibu Siti, begitu ia biasa dipanggil, mengungkapkan bahwa dirinya menyadari sepenuhnya, untuk menjadi ibu mempunyai tanggung jawab yang besar. “Saat masa kehamilan berlangsung, saya lebih banyak melakukan aktivitas keagamaan. Shalat wajib dan sunnat, puasa, membaca Al Quran. Suami menjadi lebih sabar dan menyiapkan diri untuk menjadi seorang ayah”. Demikian ungkap pak Anshari yang sambil menggendong sang cucu.

Mereka berdua bekerja sama untuk menciptakan kenyamanan dan ketenangan menantikan buah hati hingga lahir kedunia. Keduanya juga sepakat untuk menyiasati diri agar komunikasi yang hangat semakin terjalin dengan hadirnya buah hati mereka.

Sebagai orang tua, tentu harus menyadari bahwa anak adalah titipan Allah SWT yang harus dipenuhi hak-haknya. Mereka harus diberikan bekal seimbang dunia akhirat. Kita harus sadar bahwa mereka ibarat anak panah yang satu hari akan keluar dari busurnya, melesat jauh dan menempatkan diri pada tambatan hatinya. Karena itu harus diberikan bekal yang cukup agar mereka bisa meniti hidup dan berguna untuk orang lain. Wallahua'lam


Sekolah Tiada Batas Bernama Keluarga

Keluarga sakinah akan terbentuk jika setiap anggota keluarga bisa merasakan rumahnya bagaikan surga (baiti jannati). Oleh karena itu, sakinah menjadi kebutuhan kita semua. Sebab, sakinah adalah konsep keluarga yang dapat memberikan kenyamanan secara psikologis meski kadang secara fisik tampak jauh di bawah standar nyaman.

Kunci keluarga sakinah adalah membangun ‘baiti jannati’ yang mampu memberikan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga di dalamnya. Dan kenyamanan dalam keluarga hanya dapat dibangun secara bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga.

Ia tidak bisa bertepuk sebelah tangan. Melalui proses panjang, setiap anggota keluarga saling menemukan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mereka saling menerima segala kekurangan dan berusaha memperbaikinya. Mereka saling memberi dengan segala kelebihannya dan saling melengkapi segala kekurangan.

Keluarga menjadi sekolah yang tiada batas waktu. Proses pembelajaran terjadi terus menerus untuk menemukan formula yang lebih tepat bagi semua pihak, baik suami-istri, maupun anak-orangtua.

Rumah juga menjadi panggung yang menyenangkan untuk sebuah pentas cinta kasih yang diperankan oleh setiap penghuninya. Rumah juga menjadi tempat sentral kembalinya setiap anggota keluarga setelah melalui pengembaraan panjang di tempat mengadu nasibnya masing-masing.

Rumah yang mereka rasakan sebagai surga, karena yang ada hanya cinta dan kebaikan. Setiap hari jatuh cinta. Anak selalu merindukan orang tua, demikian pula sebaliknya. Kebaikan menjadi pakaian sehari-hari keluarga, sehingga dapat terus melaju menempuh badai sebesar apapun.

Betapa indahnya kehidupan ketika ia hanya berwajah kebaikan. Betapa bahagianya keluarga ketika ia hanya berwajah kebahagiaan. Masalah keluarga yang banyak melilit kehidupan masyarakat adalah rumah sudah tidak lagi nyaman sebagai tempat kembali.

Suami tidak lagi menemukan suasana nyaman di dalam rumah, begitu juga istri. Bahkan, anak-anak lebih mudah menemukan suasana nyaman di luar rumah. Rumah bukan surgaku lagi, tetapi sebuah neraka kecil. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa: “Setiap manusia pernah berbuat salah. Orang salah yang paling baik adalah yang bertaubat”.

Jadi ketika ada anggota keluarga yang berbuat salah, tidak lantas menutup jalan baginya untuk membentuk keluarga sakinah. Siapapun bisa membentuk keluarga sakinah, kuncinya adalah berpegang teguh pada tali agama Allah dengan istiqomah (konsisten). Yaitu berpegang teguh pada Alquran dan Hadits. Wallahua'lam